Sumber Kerajaan Mataram Kuno Jawa Tengah
Sumber sejarah tentang kerajaan mataram kuno Jawa Tengah diketahui dari sumber lokal dan sumber asing. Sumber lokal berupa prasasti yang terdiri dari prasasti Sojomerto (abad VII), parasasti Canggal (654 S/732 M), prasasti Hampran (672 S/750 M), prasasti Kalasan (700 S/778 M), prasasti Kelurak (704 S/ 782 M), prasasti Abhayagirivihara (714 S/792 M), prasasti Sangkara (abad VIII), prasasti Kayumwungan (746 S/824 M), prasasti Tri i Tpussan (746 S/824 M), prasasti Siwagrha (778 S/856 M), prasasti Pereng (784 S/ 862 M), prasasti Wanua Tengah I & II (785 S/ 863M), prasasti Wuatan Tija (802 S/880 M), prasasti Bungur (782 S/860 M), prasasti Kwak (801/879M), parasasti Panungalan (818 S/896M), prasasti Telahap (821 S/899 M), prasasti Plaosan lor (abad IX), prasasti Watukura (824 S/ 902M), prasasti Telang (826 S/904M), prasasti Kubu-kubu (827 S/905 M), prasasti Rukam (829 S/907 M), prasasti Matyasih (829 S/907 M), prasasti Wanua Tengah III (829 S/ 907M), parasasti Taji Gunung (tahun 194 Sanjaya/910 M), prasasti Timbangan Wungkal (tahun 196 Sanjaya/ 913 M). Prasasti Lintakan (841 S/919 M), prasasti Harinjing (843 S/ 921 M), prasasti Wulakan (849 S/ 928 M), prasasti Sanguran (850 S/928 M), prasasti Kinawe (850 S/928 M), prasasti Air Kali, prasasti Kambang Sri, & prasasti Blota.
prasasti Sojomerto (abad VII) tidak berangka tahun diperkirakaan dari model tulisanya berupa Jawa Kuno & bahasa Melayu Kuno berasal dari abad VII berasal dari desa Sojomerto, kecamatan Reban, kabupaten Batang Jawa Tengah. Prasasti Sojomerto berisi tentang silsilah keluarga Sailendra penganut Siwa yang terdiri dari Dapunta Sailendra yang memiliki bapak bernama Santanu, Bhadrawati ibunya, sampula adalah nama istrinya.
Parasasti Canggal (654 S/732 M) prasasti yang ditulis dengan huruf pallawa dan bahasa sanskerta berada dihalaman candi Siwa di gunung Wukir desa Kadiluwih kecamatan Salam Magelang. Prasasti Canggal berisi doa-doa, penyebutan pulau Jawa & hasil buminya berupa padi & emas, banyaknya tempat pemujaan, & penyebutan daerah Kunjarakunja, silsilah raja dinasti sanjaya, dimanan Sanna digantikan Sanjaya yang merupakan putra Sannaha yang merupakan adik dari raja Sanna. Raja Sanjaya merupakan raja yang hebat.
Prasasti Hampran (672 S/750 M) berasal dari Salatiga kota Plumungan Jawatengah. Prasasti ditulis menggunakan aksara Jawa kuno tapi menggunakan bahasa Sanskerta. Prasasti Hampran berisi tentang pemberian tanah perdikan kepada desa Hampran yang berada di Trigramyama untuk bangunan suci, & menyebutkan raja bernama Bhanu.
Prasasti Kalasan (700 S/778 M) berasal dari desa Kalasan Yogyakarta. Prasasti ditulis menggunakan aksara Devanagari dengan bahasa sanskerta. Prasasti ini berisi penyebutan maharaja Panamkara, pembangunan bangunan suci di desa Kalasan untuk dewi Tara, sedekah bhura untuk sangha, pergantian raja Sailendra, menghibahkan wihara, & pernyataan agama Buddha.
Prasasti Kelurak (704 S/ 782 M) berasal dari candi Lumbung komplek utara percandian prambanan Jawa tengah. Prasasti ditulis menggunakan aksara Pranagari dengan bahasa sanskerta. Prasasti ini berisi pendirian bangunan suci oleh raja Indra untuk bodhisatwa Manjusri, menyebutkan nama dinasti sailendra, Dharanindra, Sri Dharmasetu, serta Sri Sanggramadhananjaya.
Prasasti Abhayagirivihara (714 S/792 M) berasal dari bukit ratu boko Yogyakarta. Prasasti berisi tentang pembangunan wihara Buddha diatas bukit oleh Tejahpurnapane Panamkarana.
Prasasti Sangkara (abad VIII) berasal dari daerah Sragen Jawa Tengah. Prasasti ini berisi tentang perpindahan agama raja Sankhara dari Hindu Siwa ke Buddha, karena setelah ayahnya sakit 8 hari & meninggal, sebab takut karena gurunya tidak benar, ia pindah agama budha dengan membuat prasada berupa candi yang indah.
Prasasti Kayumwungan (746 S/824 M) berasal dari Karang tengah Temanggung Jawa Tengah. Prasasti ditulis mengunakan aksara Jawa Kuno dengan bahasa sanskerta. Prasasti ini berisi tentang pendirian bangunan suci Jina venuvana untuk menempatkan abu raja awan/ dewa indra, dan menyebutkan raja yang bernama Samaratungga & putri mahkotanya yang bernama Pramodhawardani.
prasasti Tri i Tpussan (746 S/824 M) berasal dari Kedu Temanggung Jawa Tengah. Prasasti berisi mengenai penetapan desa Tri i Tpussan menjadi sima untuk kamulan di Bhumisambhara atas penrintah Sri Kanuluhan.
Prasasti Siwagrha (778 S/856 M) berasal dari Klaten prambanan Jawa Tengah. Prasasti berisi tentang orang yang bernama Valaputra (Balaputra) yang berperang melawan jatiningrat, & disebutkan benteng pertahananya dibuat dari beratus-ratus batu, serta pendirian bangunan suci yang dinamakan Siwagrha.
Prasasti Pereng (784 S/ 862 M) berasal dari desa Pereng kecamatan Prambanan Klaten Jawa Tengah. prasasti ini berisi tentang penetapan Sima di Wukiran oleh Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni cicit Ratu Halu, menyebutkan daftar pejabat pelaksana dan sanksi sima, ketukan bagi yang berani yang menghapuskan sima, kekuasaan Kumbhayoni yang terdiri Tunggang, Dawet, Langka, Sereh, Air Terjun Wala, Walaing, Lodwang.
Prasasti Wanua Tengah I & II (785 S/ 863M) berasal dari Temanggung candi Argapura. Prasasti ditulis dalam aksara & bahasa Jawa kuno. Prasasti ini berisi tentan desa Wanua sebagai sima oleh Rakai Pikatan Pu Manuku.
Prasasti Wuatan Tija (802 S/880 M) berasal dari nglipar Wonosari. Prasasti ini berbentuk lempengan tembaga dengan aksara & bahasa Jawa kuno. Prasasti ini berisi tentang pemberian anugerah oleh Rakai Kayuwangi kepada para pemuka desa Wuatan Tija yang telah meolong putranya Dyah Bhumijaya. Dyah Bhumijaya & ibunya Rakryan Manak diculik oleh saudaranya Rakryan Landhayan, mereka berasil kabur saat di desa Tagar, dan Rakryan Landhayan bunuh diri di desa Taas.
Prasasti Bungur (782 S/860 M) berasal dari Gedangan Sidoarjo Jawatimur. Prasasti berbentuk lempengan tembaga yang bebenarnya sekarang hanya tinulad (tiruan dari yang asli) dengan tanggal tahun 1289 S/ 1367 yang masih menggunakan aksara & bahasa Jawa Kuno. Prasasti berisi tentang pemberian status sima pada daerah bungur dan kewajiban untuk memelihara bangunan suci Kancana.
prasasti Kwak (801/879M) berasal dari desa Ngabean Magelang Jawa Tengah. prasasti terbuat dari tembaga dengan aksara & bahasa Jawa kuno. Prasasti Kwak beris tentang pembebasan tanah kwak untuk Watak Kwak Pu Cathura, sebab tanah khusus dipakai persawahan sebab dialiri patirtan Tirtayasa.
Parasasti Panungalan (818 S/896M) berasal dari Jawa Tengah. Prasasti berbentuk lempengan tembaga dengan tulisan akasara & bahasa Jawa kuno. Prasasti ini berisi mengenai nama Rakai Wungkalhumalang dengan gelar Haji.
Prasasti Telahap (821 S/899 M) berisi tentang Mpu Daksa adalah cucu dari Rakryan Watan Mpu Tamer, yang bearti Daksa adalah cucu dari Rakai Pikatan.
Prasasti Plaosan lor (abad IX) hanya berupa tulisan nama-nama orang yang ikut menyumbang pembangunan bangunan suci di badan candi Plaosan lor. Salah satunya ada nama Sang Kalungwarak Mpu Daksa.
Prasasti Watukura (824 S/ 902M) adalah prasasti yang berbentuk lempengan tembaga dengan huruf & bahasa Jawa Kuno. Prasasti ini berisi penetapan desa Watukura sebagai sima oleh Dyah Balitung dengan memberikan 1 kati uang emas kepada Ramata untuk mengadakan upacara Sima.
Prasasti Telang (826 S/904M) berasal dari bengawan Solo Wonogiri. Prasasti berbentuk tembaga dengan aksara & bahasa Jawa kuno. Prasasti ini berisi penetapan desa Paparahuan menjadi desa perdikan untuk memelihara tempat penyebrangan perahu bengawan Solo oleh Dyah Balitung.
Prasasti Kubu-kubu (827 S/905 M) berisi tentang pemberian anugerah raja kepada Rakryan Hujung Dyah Mangarak & Rakryan Matuha Rakai Majawuntan, dimana penetapan desa Kubu-kubu sebagai Sima oleh Dyah Balitung.
Prasasti Rukam (829 S/907 M) berisi tentang penetapan desa Rukam menjadi sima oleh Dyah Balitung yang masuk wilayah pusat kerajaan bagi Rakryan Sanjiwana Nini Haji, sebab desa itu pernah hancur oleh letusan gunung.
Prasasti Matyasih (829 S/907 M) berasal dari desa Mateseh Magelang Jawa Tengah. Prasasti berbentuk tembaga dengan huruf & bahasa Jawa kuno. Prasasti ini bersisi penetapan desa Matyasih sebagai sima oleh Dyah Balitung & penyebutan silsilah raja yang menguasai Mataram kuno dari dinasti Sanjaya.
Prasasti Wanua Tengah III (829 S/ 907M) berasal dari desa Gandulan, Kaloran Temanggung Jawa Tengah. Prasasti Wanua Tengah III berbentuk lempengan tembaga dengan huruf & bahasa Jawa Kuno. prasasti Wanua Tengah III berisi penetapan kembali status sima di desa Wanua Tengah oleh Dyah Balitung & menyebut nama-nama raja yang menguasai Mataram kuno.
Parasasti Taji Gunung (tahun 194 Sanjaya/910 M) berasal dari desa Taji Jawa tengah. Prasasti ini ditulis dengan huruf & bahasa Jawa kuno. prasasti berisi tentang penetapan desa Taji Gunung sebagai sima oleh Rakryan Mahamantri.
Prasasti Timbangan Wungkal (tahun 196 Sanjaya/ 913 M) berasal dari desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Prasasti ditulis dengan huruf & bahasa Jawa Kuno. Prasasti berisi tentang penyebutan nama Sri Daksottama Bahubajra.
Prasasti lintakan (841 S/919 M) berupa lempengan tembaga dengan tulisan & bahasa Jawa kuno. prasasti ini berisi Dyah Tulodhog sebagai raja.
prasasti Harinjing (843 S/ 921 M) berasal dari desa Siman Kepung Kediri Jawa Timur. Prasasti ditulis dalam aksara & bahasa Jawa Kuno. Prasasti berisi pngukuhan anugerah untuk anak Bhagawan Bhari yang telah berjasa membangun bendungan untuk mencegah banjir.
Prasasti Wulakan (849 S/ 928 M) berisi tentang Sri Maharaja Dyah Waba (Wawa) menetapkan daerah Wulakan sebagai sima, dan menyebutkan Wawa sebagai anak Rakryan Landhayan yang dimakamkan di hutan.
Prasasti Sanguran (850 S/928 M) berasal dari Batu Malang Jawa Timur. Prasasti ditulis dalam aksara & bahasa Jawa kuno.prasasti berisi nazar Rakryan Mahapatih I Hino Pu Sindok menetapkan desa sanguran sebagai sima
Prasasti Kinawe (850 S/928 M) berasal dari daerah Ngronggot, Nganjuk Jawa Timur. Prasasti ditulis dengan aksara & bahasa Jawa kuno. prasasti berisi penetapan desa Kinawe sebagai sima oleh Rake Gunungan Dyah Muatan & ibunya Dyah Bingah, & menyebutkan Dyah Wawa sebagai raja Mataram dengan Mpu sindok sebagai pejabat tinggi Rakryan Mahapatih Mpu Sindok Isana Wikrama.
Prasasti Air Kali, prasasti Kambang Sri, & prasasti Blota semuanya dalam kondisi aus, sehingga sulit dibaca.
Sumber asing arab abu Zayd yang berkaitan dengan penuntutan hak Sailendra Jawa atas Kamboja abad 8. Cerita ini ditulis awal abad 10, dikisahkan bahwa raja Khmer menyatakan keinginanan untuk melihat kepala maharaja Zabag (Javaka), pernyataan raja Khmer dilaporkan kepada raja Zabag itu. Maka raja Zabag, dengan dalih ingin melakukan perjalanan untuk bersenang-senang dipulau kerajaanya, menyuruh mempersiapkan armada perang untuk melawan Kamboja. Maharaja dari hulu mengikuti sungai yang menuju ibu kota, menangkap raja Khmer menyuruh untuk memancung kepalanya, lalu menteri Kamboja ditugasi untuk mencari pengantinya. Sekembali ke negerinya, Maharaja meyuruh untuk mengawetkan kepala raja yang dipancung dan mengirimnya dalam sebuah jambangan kepada raja pengganti dengan sepucuk surat yang memberi hikmah peristiwa itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar