Teori Masuknya Hindu-Buddha Indonesia

  1. Teori Brahmana, Van leur mengemukakan teori brahmana, dimana dalam teori menyatakan bahwa yang menyebarkan agama Hindu adalah kaum brahmana. Kekuatan teori dibuktikan penggunaan huruf pallawa & bahasa sanskerta pada prasasti di Indonesia, & brahmana lah yang hanya menguasai kitab weda baik bahasa sanskerta, tulisan pallawa, dan praktik ritualnya. Kelemahan teori  ini adalah Brahmana tidak boleh menyebrang lautan, jika menyebrang lautan maka gelarnya hilang, & tidak ada kewajiban brahmana untuk menyebarkan agama Hindu diluar India.
  2. Teori Ksatria, Cornelis Christiaan Berg (C.C. Berg) mengemukakan teori ksatria didukung Moens, Moekerji, & R.C. Majumdar. Teori ini menyatakan bahwa masuknya agama Hindu-Buddha yang dibawa oleh golongan ksatria atau para perwira atau prajurit. Kekuatan teori didasari jiwa semangat dan berani untuk menaklukan suatu wilayah dari kasta ksatria, adanya kehancuran kerajaan di India Selatan, adanya serangan kerajaan Chola terhadap Sriwijaya abad ke 11. Kelemahan teori ini tidak adanya bukti prasasti, kaum ksatria tdak menguasai bahasa sanskerta dan tulisan pallawa, tidak ada bukti catatan, penyerangan kerajaan Chola baru abad 11, padahal agama Hindu sudah masuk pada abad ke 4. 
  3. Teori Waisya, Nicolaas Johannes Krom (N.J.Krom) menemukakan teori waisya. Teori ini menyatakan bahwa yang menyebarkan agama Hindu adalah para pedagang, melalui menetap dan perkawinan dengan bangsa Indonesia asli memungkinkan adanya generasi penerus Hindu. Kekuatan teori ini didasarkan adanya interaksi kasta waisya dengan penduduk asli Indonesia, sumber daya alam Indonesia yang menarik para kasta waisya, adanya kampung keling, adanya perkawinan dengan pedagang dari India. Kelemahan teori ini adalah kaum waisya tidak menguasai tulisan pallawa & bahasa sanskerta, pedagang hanya fokus berdagang, kasta waisya tidak menguasai weda, dan ritual keagamaan.
  4. Teori Sudra, Godfried Hariowald Von Faber mengemukakan teori sudra. Teori ini mengemukakan bahwa agama Hindu masuk dibawa oleh kaum sudra yang ingin mencari penghidupan yang layak. Kekuatan teori ini didasarkan keinginan kaum sudra yang ingin hidup layak di Nusantara. Kelemahanya teori adalah sudra tidak tahu ajaran hindu seperti brahmana, tujuan mereka mencari hidup layak bukan penyebaran agama hindu, sudra merupakan kasta yang paling bawah tentu dipastikan sudra tidak memiliki peran untuk penyebaran agama hindu.
  5. Teori Arus Balik, F.D.K Bosch mengemukakan teori arus balik. Teori ini menyatakan bahwa masyarakat nusantara berperan aktif dalam penyebaran agama Hindu-Buddha. Kekuatan teori ini dibuktikan adaya keinginan belajar agama buddha di India dengan adanya permintaan raja Sriwijaya Balaputradewa abad 9 meminta izin untuk mendirikan wihara di Nalanda dan permintaan ini dikabulkan dan tercatat pada prasasti Nalanda. Kelemahan teori ini adalah ajaran Hindu sudah masuk sejak abad ke 4, sedangkan prasasti Nalanda abad 9, yang berarti belum ada masyarakat nusantara pada abad ke 4 yang memperajari agama di India. 

Sumber Kerajaan Majapahit

 Sumber sejarah Majapahit berasal dari sumber lokal dan sumber asing. Sumber lokal berupa prasasti Kudadu (1294 M), prasasti Sukamerta, prasasti Tuharu (1323 M), prasasti Balitar (1324 M), prasasti Geneng (1329 M), prasasti Prapancasarapura, prasasti Canggu (1358 M), prasasti Waringin Pitu (1447 M), Negarakertagam (1365 M), Pararaton (1481 M), babad Tanah Jawa, Kidung Sundayana. Sumber asing terdiri dari berita Dinasti Yuan, catatan dinasti Ming, catatan Pigafetta (1522 M).

Prasasti Kudadu (1294 M) berisi penetapan kudadu sebagai sima karena telah membantu raja merebut kekuasaan. Prasasti Sukamerta (1296 M) berisi penetapan desa Sukamerta sebagai sima oleh raden Wijaya. Prasasti Tuharu (1323 M) erisi penetapan desa Tuharu sebagai sima oleh Jayanegara & menyebutkan susunan pemerintahan masa Jayanegara. prasasti Balitar (1324 M) isisnya tidak bisa dibaca hanya angka tahunya yang terbaca. Prasasti Geneng (1329 M) berisi penetapan Geneng sebagai sima oleh Tribuanatunggadewi, & menyebutkan susuna lembaga pemerintahan Tribuana Tunggadewi. Prasasti Prapancasarapura (1337 M) berisi susunan jabatan di Majapahit masa Hayam Wuruk tapi tidak lengkap. Prasasti Canggu (1358 M) berisi mengatur & menentukan kedudukan hukum desa-desa di tepi sungai Brantas & Solo yang menjadi tempat penyemberangnan. Prasasti Waringin Pitu (1447 M) penetapan Waringin Pitu sebagai sima oleh Dyah Kertawijaya. Negarakertagam (1365 M) menceritakan perjalanan Hayam Wuruk yang dicatat oleh Mpu Prapanca. Pararaton (1481 M) menceritakan sejarah Ken Arok seolah catatan harian. Babad Tanah Jawa berisi sejarah kerajaan Mataram Islam dari Majapahit, Kidung Sundayana menceritakan peristiwa bubat. Sumber asing terdiri dari berita Dinasti Yuan kisah penyerangan bangsa mongol untuk menundukan pulau Jawa, catatan dinasti Ming berisi gambaran kondisi Majapahit ketika peran Paregreg, catatan Pigafetta (1522 M) berisi pernyataan bahwa Majapahit telah jatuh pada kekuasan Demak dengan raja Adipati Unus.

Raja-Raja Penguasa Kerajaan Singasari

Perkembangan politik diketahui dari 2 sumber kitab Negarakertagama & Pararton memberikan nama raja-raja Singasari yang berkuasa, sebagai berikut ini dibawah ini:

  1. Ken Arok adalah pendiri wangsa Rajasa. Awalnya Ken Arok adalah orang yang perusuh tapi bisa mengambi kepada seorang akuwu di Tumampel. Sang akuwu tumampel dihabisi oleh Ken Arok dan menggantinya sebagai akuwu serta menihaki istrinya yang bernama Ken Dedes. Ken Arok diduga anak dari Tunggul Ametung yang merupakan akuwu Tumampel sendiri. bersamaan itu raja kediri Kertajaya tiba-tiba mengaku dirinya sebagai dewa, dan menyuruh brahmana untuk menyembahnya. Para brahmana mengadu & meminta perlindungan kepada Ken Arok. Ken Arok yang mendapatkan dukungan akhirnya bisa mengalahkan Kediri. Kediri jatuh ketangan kerajaan Singasari, lalu Ken Arok dinobatkan oleh para brahmana dengan gelar Sri Rajasa Amurwabhumi. Ken Arok menikah dengan Ken Umang. Ken Arok didamarkan di candi Kangenan.
  2. Anusapati bisa naik tahta di Singasari karena telah berhasil membunuh untuk balas dendam ke Ken Arok yang telah membunuh bapaknya yang bernama Tunggul Ametung. Anusapati tidak bertahan lama karena segera dibunuh oleh Tohjaya ketika main saambung ayam. Anusapati didarmakan di Candi Kidal
  3. Tohjaya berkuasa setelah tahu Anusapati telah membunuh bapaknya yang bernama Ken Arok. Akhirnya Tohjaya dibunuh oleh anak Anusapati yang bernawa Ronggowuni atau Wisnuwardhana di candi Katanglumbang.
  4. Wisnuwardhana atau Ronggowuni memerintah Singasari bersama-sama dengan Mahisa Cempaka yang menjadi ratu Angabhaya. Masa pemerintahanya kerajaan Singasari dapat bersatu lagi. Ronggowuni didarmakan di candi Jago 
  5. Kertanegara merupakan raja yang membawa Singasari menuju kejayaan. Kertanegara melakukan ekspedisi Pamelayu dengan mengirim patung Amogpahasa sebagai hadiah kepada kerajaan Pamelayu. Kertanegara pernah menangani utusan Mongol dari China yang bernama Meng-Chi pada 1281 M dengan melukai mukanya dan kembali ke China. Akhir pemerintahan Kertanegara lenyap karena adanya pemberontakan Jayakatwang dari Kediri. Kertanegara sendiri tewas terbunuh oleh Jayakatwang, yang menandakan berakhirnya kerajaan Singasari

Sumber Sejarah Kerajaan Kediri

Sumber sejarah terdiri dari sumber lokal & Asing. Sumber lokal terdiri dari prasasti & kitab Negarakertagama, Pararaton. Parasti terkait kerajaan Kediri adalah prasasti Padlegan (1117 M). prasasti Panumbangan (1120 M), prasasti Hantang (1135 M), prasasti Talan (1136 M), prasasti dukuh Jepun Desa Tegalrejo (1144 M), prasasti Karangrejo (1134 M), prasasti Pandeglan II (1159 M), prasasti Kayunan (1161 M), prasasti Sukun (1161 M), prasasti Meleri (1169 M), prasasti Angin (1711 M), prasasti Jaring (1181 M), prasasti Ceker (1185 M), prasasti Semandig (1182 M), prasasti Kemulan ( 1194 M), prasasti Sapu Angin (1190 M), prasasti Palah (1197 M), prasasti Candi Pertapan (1198 M), prasasti Galunggung (1200 M), prasasti Biri (1202 M), prasasti Pamotoh (1198 M).

Prasasti Padlegan (1117 M) berisi tentang penetapan desa Padlegan sebagai sima oleh raja Bameswara, menyebutkan bahwa ibukota Dahana tidak di Panjalu melainkan pindah dilembah sungai Lamong sebelah selatan.

Prasasti Panumbangan (1120 M) berasal dari Doko Blitar Jawa Timur. prasasti berisi pengukuhan kembali anugrah berupa  penulisan ulang prasasti dari daun lontar ke batu oleh raja Bameswara.

 Prasasti Hantang (1135 M) berisi penetapan desa Ngantang & 12 desa Thani sebagai Sima oleh Jayabhaya, yang telah membatu raja ketika terjadi perembutan tahta. 

Prasasti Talan (1136 M) berasal dari Gurit Wlingi, Blitar Jawa Timur. Prasasti berisi pemberian & pengukuhan desa Talan sebagai sima sejak zaman Airlangga. 

Prasasti dukuh Jepun Desa Tegalrejo (1144 M)  prasasti tidak bisa dibaca, karena prasasti aus sekali.

Prasasti Karangrejo (1134 M) berisi hak sima kepada patung dewa Ganesha.

 Prasasti Pandeglan II (1159 M) berasal dari Sregat Blitar Jawa Timur.  Prasasti berisi penetapan desa Pandlegan sebagai sima oleh Sri Sarwweswara. 

Prasasti Kayunan (1161 M) berasal dari Kahyunan Pare Kediri Jawa Timur. Prasasti berisi penetapan desa Kahyunan sebagai sima oleh Sri Sarwweswara.

Prasasti Sukun (1161 M) berisi tentang pengukuhan penetapan desa Sukun sebagai sima oleh Sri Sarwweswara.

Prasasti Meleri (1169 M) berasal dari desa Meleri Srengat Blitar Jawa Timur. Prasasti isinya tidak bisa diketahui karena rusak berat. 

Prasasti Angin (1711 M) berasal dari Dadapan Jemekan Ngadiluwih Kediri Jawa Timur. Prasasti isinya juga belum diketahui karena mengalami rusak berat.

Prasasti Jaring (1181 M) berasal dari Jaring Kembang Arum Blitar Jawa Timur. Prasasti berisi penetapan desa Jaring sebagai sima oleh Sri Gandra. 

Prasasti Ceker (1185 M) asal tidak diketahui. Prasasti isinya belum jelas hanya terdapat penetapan daerah Ceker sebagai sima oleh Sri Kameswara. 

Prasasti Semandig (1182 M) berasal dari Semanding Nglegok Blitar Jawatimur. Prasasti isinya tidak diketahui karena rusak hanya terbaca nama raja yang mengeluarkan yaitu Sri Kameswara. 

Prasasti Kemulan (1194 M) Prasasti isinya sulit diketahui karena mengalami kerusakan. 

Prasasti Sapu Angin (1190 M) berasal dari perkebunan Sapu Angin Geger Kalangbret, Tulungagung Jawa Timur. Prasasti berisi pendirian pertapaan oleh Sri Krtajaya.

Prasasti Palah (1197 M) berasal dari pelataran Candi Penataran Blitar Jawa Timur.Prasasti berisi pemujaan untuk batara di Palah setiap harinya.

Prasasti Candi Pertapan (1198 M) berasal dari Pinggirsari Sregat Blitar Jawa Timur. prasasti berisi pembangunan-bangunan suci untuk leluhur di Subhasitha.

Prasasti Galunggung (1200 M) berasal dari makam desa Pajer Jero Sumbergempol Ngunut Tulungagung Jawa Timur. Prasasti bersisi penetapan wilayah Galunggung sebagai sima oleh Sri Sarwweswara. 

Prasasti Biri (1202 M) berisi tentang penetapan desa Biri sebagai sima oleh raja Srngga

Prasasti Pamotoh (1198 M) berasal dari perkebunan Ukir Negara Sirah Kencong Wlingi Blitar Jawa Timur. Prasasti berisi pemberian sima dan hadiah lainya.

Negarakertagama, & Pararaton memberikan informasi bahwa kerajaan Kediri runtuh karena diseran oleh Sri Ranggah Rajasa yang bertahta di Kutharaja Tumampel menyerang raja Kediri Kertajaya.

Sumber asing yang diketahui hanyalah sumber Cina dinasti Song bahwa memberikan gambaran kehidupan masyarakat kediri dengan gambaran bahwa  lutut & rambutnya terurai. Rumah-rumah rata-rata sangat bersih & rapi. Lantainya terbuat dari ubin yang bewarna hijau & kuning. Pemerintahanya sangat memperhatikan keadaan rakyat sehinga pertanian, pertenakan, & perdangngan mengalami kemajuan yang cukup pesat. Golongan masyarakat ada dua yaitu masyarakat yang memiliki hubungan resmi dengan pemerintah & masyarakat Wiraswasta.

Sumber Kerajaan Mataram Kuno Jawa Timur

 Sumber sejarah Mataram kuno di Jawa Timur diketahui dari sumber lokal. Sumber lokal terdiri dari prasasti & kitab. Prasasti yang diketahui terdiri dari prasasti Turryan (929 M), prasasti Gulung-gulung (929 M), prasasti Linggasutan (929 M), prasasti Cunggrang (929M), prasasti Jeru-Jeru (930 M), prasasti Wulig (935 M), prasasti Anjukladang (937M), prasasti Paradah (934 M), prasasti Hara-hara (966 M), prasasti Kamwang kulwan (992 M) prasasti Muncang (994 M), prasasti Lucem (1012-1014), prasasti Cane (1021 M), prasasti Baru (1030 M), prasasti Terep (1032 M), parasasti Turun Hyang (1036 M), prasasti Kamalagyan (1037 M), prasasti Pucangan (1041 M), prasasti Wurara (1289), prasasti Pamwatan (1042 M), prasasti Pandan (1042 M). kitab yang memuat sejarah kerajaan Medang kamulan terdiri dari kitab Calon Arang, & kitab Negarakertagama. 

Prasasti Turryan (929 M) berasal dari dukuh Watugodeg Tanggung Turen Malang Jawa Timur. Prasasti ditulis dalam akasara & bahasa Jawa kuno. Prasasti berisi tentang tanah di desa Truyyan dijadikan sima oleh Mpu Sindok. 

Prasasti Gulung-gulung (929 M) berasal dari Singasari Malang Jawa Timur. Prasasti ditulis dalam akasara & bahasa Jawa kuno. prasasti berisi penetapan tanah sawah di daerah Gulung-gulung untuk sima oleh Mpu Sindok.

 Prasasti Linggasutan (929 M) dari desa Baturetno Singosari Malang Jawatimur. Prasasti ditulis dalam akasara & bahasa Jawa kuno. Prasasti berisi penetapan desa Linggasutan & wilayah Hujung sebagai sima oleh Mpu Sindok.

Prasasti Cunggrang (929M) berasal dari Desa Bulusari Gempol Pasuruan Jawa Timur. Prasasti ditulis dalam akasara & bahasa Jawa kuno. parasasti berisi penetapan desa Cunggrang sebagai sima oleh Mpu Sindok. 

Prasasti Jeru-Jeru (930 M) berasal dari Singosari Malang Jawa Timur. Prasasti ditulis dalam akasara & bahasa Jawa kuno. Prasasti berisi penetapan tanah sima di desa Jeru-jeru oleh Mpu Sindok.

Prasasti Wulig (935 M) berisi tentang penetapan bendungan di wuatan wulas & Tamya yang dibangun oleh penduduk desa Wulig dibawah sang Pamgat Susunan. Peresmian dilaksanakan istri Mpu Sindok Rakryan Mangibil.

prasasti Anjukladang (937M) berasal dari desa Candiredjo Loceret Nganjuk Jawa Timur.Prasasti ditulis dalam akasara & bahasa Jawa kuno. Prasasti berisi penetapan tanah sawah desa Anjukladang oleh Mpu Sindok & peringatan tugu kemenangan melawan serangan Sriwijaya.

Prasasti Paradah (934 M) berasal dari desa Siman Kepung Kediri Jawa Timur. Prasasti ditulis dalam akasara & bahasa Jawa kuno. Prasasti berisi penetapan sima di tanah sawah sebelah utara sungai desa Paradah

Prasasti Hara-hara (966 M) berisi tentang pemberian tanah Sima oleh Mpu Mano kepada Mpungku di Susuk Pager & Mpungku di Nairajana yang benama Buddhiwala yang terletak di desa Hara-hara sebelah selatan rumahnya.

Prasasti Kawambang Kulwan (992 M) berasal dari sendang Kamal Maospati Magetan. Prasasti ditulis dalam akasara & bahasa Jawa kuno. Prasasti berisi penetapan sima di desa Kawambang Kulwan oleh Dharmawangsa Teguh yang diteruskan Pu Dharmmasanggramawikranta dan diterima oleh Samgat Kanuruhan Pu Burung tentang pendirian bangunan suci dewa Siwa & adanya ajaran Siwasasana.

Prasasti Muncang (994 M) ditulis dalam akasara & bahasa Jawa kuno.Prasasti berisi penetapan tanah selatan pasar di Muncang termasuk wilayah Hujung dijadikan sima oleh Mpu Sindok

Prasasti Lucem (1012-1014) berasal dari desa Titik Semen Kediri Jawa Timur. Prasasti ditulis dalam akasara & bahasa Jawa kuno. Prasasti berisi perbaikan jalan yang telah diperbaiaki oleh samgat dari Lucem bernama Pu Ghek Sembilan ditandai dengan penanaman pohon Bodhi & beringin. 

Prasasti Wurara (1289) pada arca buddha berisi ada dua orang putra raja yang saling bermusuhan berebut tanah yaitu Jenggala & Panjalu.

Prasasti Cane (1021 M) ditulis dalam akasara & bahasa Jawa kuno. prasasti berisi penetapan sima di desa Cane yang berjuang di garis depan untuk menjadikan desanya benteng pertahanan, disebutkan lokasi keraton Airlanga di Wwatan Mas, adanya bangsa asing yang dikenai pajak seperti orang keling, arya, singhala, Pandikira, Dravida, Campa, Khmer, Remen atau Mon.

Prasasti Baru (1030 M) berasal dari Simpang Surabaya Jawa Timur. Prasasti ditulis dalam akasara & bahasa Jawa kuno. Prasasti berisi penetapan sima kepada desa Baru yang telah berjasa dalam penaklukan kerajaan Hasin.

 Prasasti Terep (1032 M) ditulis dalam akasara & bahasa Jawa kuno. Prasasti bersisi penetapan desa Terep sebagai sima, & menyebutkan bahwa ibu kota baru pindah ke Kahuripan yang merupakan bagian Jeggala.

Parasasti Turun Hyang (1036 M) berasal dari dusun Truneng Kemlagi, Mojokerto Jawa Timur. Prasasti ditulis dalam akasara & bahasa Jawa kuno. Prasasti berisi nama raja Jenggala setelah pembagian kerajaan, & penetapan sima oleh Maha Panji Grasakan kepada desa Turun Hyang karena berjasa melawan Kediri.

Prasasti Kamalagyan (1037 M) berasal dari dusun Klagen desa Tropodo Krian Sidoardjo Jawa Timur. Prasasti ditulis dalam akasara & bahasa Jawa kuno. Prasasti berisi pendirian bendungan di wringin sapta oleh Airlangga & rakyatnya.

Prasasti Pucangan (1041 M) Prasasti ditulis dalam akasara & bahasa Jawa kuno. Prasasti berisi cerita pemberontakan wura wuri, dan usaha Airlangga meyatukan kerajaan kembali, & perintah membangun pertapan di Pucangan.

prasasti Pamwatan (1042 M) berasal dari Sambeng Lamongan Jawa Timur. Prasasti ditulis dalam akasara & bahasa Jawa kuno. Prasasti berisi menyebutan Daha sebagai ibukota Medang Kamulan.

prasasti Pandan (1042 M) berasal dari desa Pandankrajan Trowolan Jawa Timur Prasasti ditulis dalam akasara & bahasa Jawa kuno. Prasasti berisi pemberian penetapan sima pada pejabat desa Pandan.  

kitab kitab Calon Arang berisi cerita seorang Janda Calon Arang yang menguasai ilmu hitam, tapi diakhir cerita ada kisah Medang Kamulan terpecah menjadi dua.  

kitab Negarakertagama berisi perjalanan Hayam wuruk mengelilingi Jawa yang dicatat oleh Mpu Prapanca, da juga membahas peninggalan yang berhubungan sebelum kerajaan Majapahit seperti peningalanan Medang Kamulan yang dikunjungi Hayam Wuruk.

Raja-Raja Penguasa Kerajaan Mataram Kuno Jawa Timur

Perkembangan kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur bisa diketahui dari sumber-sumber sejarah yang telah disebutkan sebelumnya. Adapun Raja yang memerintah kerajaan Medang Kamulan sebagai berikut dibawah ini:


  1. Mpu Sindok adalah raja pertama yang berkuasa di Mataram Kuno Jawa Timur yang berada di Tamwlang. Pada masa pemerintahanya muncul kitab agama Buddha yang berjudul Sang Hyang Kamahayanikan. 
  2. Pemerintahan Sri Isanatunggawijaya adalah putri Mpu Sindok yang memeluk Buddha, walau Mpu Sindok sendiri agama Hindu. Sri Isanatunggawijaya memerintah Medang Kamulan bersama suaminya Sri Lokapala.
  3. Sri Makutawangsawarddhana adalah anak dari Sri Isanatunggawijaya. Kerajaan Medang Kamulan menjadi aman & makmur dibawah pemerintahanya. Ia memiliki putri yang bernama Gunapriyadharmapatni atau Mahendratta menikah denan Udayana.
  4. Dharmawangsa Teguh, masa kekuasaanya terjadi pemberontakan oleh raja Wura-wuri sehingga kerajaan hancur dan terpecah-pecah. Dharmawangsa sendiri & pejabat keraton lainya tewas karena pemberontakan ini. Dharmawangsa dimakamkan di Wwatan Mas. Airlangga yang diiringi Narottama yang selamat dari pemberontakan dan melarikan diri ke hutan Wanagiri.
  5. Airlangga, pemerintahanya berhasil menyatukan kembali wilayah Medang Kamulan yang sebelumnya terpecah-pecah. Ibu kota pindah dari Tamwlang ke Kahuripan, pindah lagi ke Dahana. Kerajaan Medang Kamulan kembali pecah lagi menjadi dua yaitu kerajaan Kediri & Jenggala agar supaya tidak terjadi pemerangan besar dengan bantuan Mpu Barada. Kerajaan Kediri beribukota di Dahana dengan raja Samarawijaya anak dari Dharmawangsa Teguh. Kerajaan Jenggala dengan ibukota di Kahuripan dengan Raja Mapanji Garasakan.

Teori Kerajaan Mataram Kuno Jawa Tengah Pindah Ke Jawa Timur

Kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur dilakukan sekitar abad X. Timbul berbagai Teori kemungkinan alasan perpindahan istana kerajaan Mataram kuno ke Jawa Timur, sebagai berikut teori-teori perpindahan Mataram kuno dibawah ini:

  1. N.J. Krom: perpindahan pusat kerajaan tersebut terjadi pada kurun waktu seperempat awal abad X, dengan alasan yang tidak begitu jelas.
  2. B. Schrieke: penyebab pusat pemerintahan ke Jawa Timur karena pembangunan Candi Borobudur meyita banyak tenaga dari rakyat Mataram dan meninggalkan pekerjaan seperti bertani, berdagang, dan aktivitas yang lainya sehingga terjadilah migrasi massal ke Jawa Timur.
  3. J.G de Caparis: karena wilayah Jawa Timur semakin makmur untuk perdagangan, sehingga menjadi ancaman bagi Sriwijaya, dan Sriwijaya melakukan serangan ke Mataram Kuno, untuk mengamankan maka pemerintahan pindah ke Jawa Timur.
  4. R.W. Van Bemmelen: perpindahan Mataram Kuno dari Jawa tengah ke Jawa Timur karena adanya letusan gunung api sekitar 929 M.
  5. M. Boechari: perpindahan kerajaan adalah hal biasa, kondisi semacam ini dilatarbelakangi oleh kepercayaan masyarakat Jawa yang percaya terhadap empat siklus yang terdiri kretayuga, tretayuga, dwaparayuga, kaliyuga.

Teori Masuknya Hindu-Buddha Indonesia

Teori Brahmana, Van leur mengemukakan teori brahmana, dimana dalam teori menyatakan bahwa yang menyebarkan agama Hindu adalah kaum brahmana....